Juli 29, 2013

Rezeki

Rezeki itu ada beragam bentuknya. Selama ini kebanyakan orang mengasosiasikan rezeki itu sama dengan uang. Padahal pengertian rezeki dalam Islam tidak sesempit itu. Kita diberi kesehatan itu sebuah rezeki, coba kalau sakit-sakitan terus....walaupun harta banyak bisa habis untuk berobat. Kita diberi anggota tubuh yang lengkap itu adalah rezeki yang besar. Kita bisa menghirup udara tanpa bantuan alat pernafasan itu juga sebuah rezeki. Penghasilan tinggi adalah rezeki, punya suami/istri dan anak-anak adalah rezeki dan masih banyak lagi jenis rezeki yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT kepada kita.

Idealnya bentuk rezeki menurut kita sebagai manusia adalah sehat, punya harta banyak, punya keluarga bahagia, hidup serba kecukupan, punya teman-teman dan tetangga yang baik dan hal-hal bagus lainnya. Tapi terkadang tidak semua yang kita harapkan itu akan kita dapatkan.

Misalkan begini aja, saat aku sekolah dan kuliah aku mempunyai banyak teman yang tentu saja memiliki latar belakang yang berbeda-beda...ada yang anaknya pejabat, anak kyai, anak guru, anak pedagang, anak petani dan lain sebagainya. Tetapi saat kami sekolah dan kuliah kami mendapatkan porsi pelajaran dan mata kuliah yang sama. Apakah setelah kami lulus sekolah dan kuliah kami akan memiliki tingkat pendapatan yang nyaris sama??? Tidak kawan. Kami mempunyai tingkat pendapatan yang sangat beragam dengan range yang kadang sangat berjauhan.

Teman sekolahku ada yang menjadi pemimpin sebuah partai besar dan menjadi anggota DPRD, ada yang jadi kontraktor, jadi direktur, jadi guru, jadi tentara, jadi polisi, jadi dokter, jadi ibu rumah tangga dan bahkan ada yang jadi satpam. Tapi walaupun dia menjadi satpam dia tetap merasa bahagia, dia selalu merasa bersyukur karena mempunyai keluarga yang bahagia.

Teman-teman kuliahku pun mempunyai posisi yang beragam. Ada yang menjadi manajer di Bank Nasional, Manajer di Bank Swasta, bahkan ada yang sudah menjadi AVP di salah satu Bank Swasta Internasional. Ada yang menjadi Finance Manager di perusahaan batubara besar, menjadi pemilik perkebunan kelapa sawit yang besar, menjadi konsultan, menjadi manajer di BI, menjadi direktur di perusahaannya sendiri, menjadi GM di salah satu perusahaan retail minyak, menjadi dosen, ada yang menjadi karyawan biasa-biasa aja, ada juga yang menjadi ibu rumah tangga dan beragam pekerjaan lainnya.

 Aku ingat saat menemani salah seorang temanku mengikuti ujian kelulusan skripsi, saat itu dia ujian bareng dengan kakak kelasku yang lulusnya emang agak terlambat. Tapi tahukah kalian kakak kelasku itu sekarang menjadi apa? Dia menjadi salah seorang direktur di Bursa Efek Indonesia :)

Aku pribadi sangat salut dengan teman-temanku yang memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, benar-benar mengabdikan diri untuk suami dan anak-anaknya. Aku melihat bagaimana mereka mengasuh dan membesarkan anak tanpa bantuan baby sitter. Sejak bayi sampai sekarang anaknya sudah masuk SD atau TK benar-benar diasuh sendiri tanpa bantuan pengasuh. Dan aku melihat bagaimana cerdasnya anak-anak mereka sekarang, karena pengasuhan dan pendidikan benar-benar langsung dihandle oleh ibunya, tentu bapaknya juga berperan tetapi kan anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan ibunya.

Dulu temanku ada yang lulus kuliah S1 dalam waktu 3 tahun 1 bulan dengan IPK 3,78 dari skala 4. Dan aku ingat banget dia dulu pernah bertanya kepadaku.

B : "Na, menurutmu aku cocok kerja di perusahaan apa?"
Aku: "Menurutku kamu gak akan cocok kerja di perusahaan apapun."
B : "Kenapa begitu?"
Aku: "Kamu sangat pintar, tapi kamu itu orangnya sangat lurus...saklek. Sementara di perusahaan2 itu pasti ada intrik2, ada politik kantornya. Apakah kamu bisa tahan dengan hal itu?"
B : (mengerutkan keningnya menunggu kata-kataku selanjutnya)
Aku: "Kamu cocoknya jadi dosen aja. Udahlah jadi dosen di almamater kita aja."
B : (manggut-manggut)
B : Makasih ya Na atas masukannya :)
Aku: Sama-sama B :)

Gak berapa lama temanku itu mendapat beasiswa S2 ke Norwegia, pulang dari Norwegia dia menjadi dosen di almamaterku. Kemudian dia mendapatkan beasiswa untuk menempuh S3 di Taiwan. Sekarang dia hidup di Jogja bersama istri dan anak-anaknya. Lama kita gak ketemu ya Bay. Nantilah kalau aku ke Jogja lagi kita bisa ketemuan...Insya Allah.

Teman kuliahku yang lain ada yang berasal dari keluarga yang sangat miskin, dia bisa sekolah dan kuliah dari beasiswa. Dia sangat rajin belajarnya karena dia menyadari dia harus pintar untuk bisa dapat beasiswa. Dia cerita saat SD dulu dia bersekolah tanpa sepatu karena memang orang tuanya tidak mampu membelikannya sepatu. Lulus kuliah temanku itu menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja, setelah itu mendapatkan beasiswa S2 ke Malaysia dan sekarang dia sedang menempuh pendidikan S3 di Inggris.

Intinya...rezeki itu ada yang otomatis sudah kita dapat seperti udara untuk bernafas, tapi ada juga rezeki yang harus kita jemput. Berusaha tanpa berdoa itu adalah sebuah bentuk kesombongan, berdoa tanpa berusaha itu adalah sebuah bentuk kemalasan dan kebodohan. Jadi selainterus  berusaha kita juga harus terus berdoa.
Apapun rezeki yang diberikan oleh Allah SWT kita wajib mensyukurinya. Dengan selalu bersyukur hidup akan selalu terasa indah :)

0 comments:

Poskan Komentar