Juli 30, 2013

Kenapa malas ke reuni?

Dalam keluarga besarku ada tradisi reuni keluarga setiap 2 tahun sekali. Keluarga besar disini tidak hanya dalam lingkup dari satu Kakek Nenek, tapi dari atasnya buyut...apa sih namanya ya? Reuni keluarga itu diadakan pindah-pindah tempat. Pernah juga diadakan di rumahku dan yang datang waktu itu sekitar 1500 orang...wow banget kan??? Udah kayak pengantenan aja. Dan dari sekian banyak orang itu aku hanya kenal sebagian kecilnya saja. Katanya sih tujuan reuni itu untuk lebih saling mengenal saudara, saudara jauh...tapi kok abis reuni aku merasa gak lebih mengenal juga ya? Paling yang akrab ya yang itu-itu aja.

Dulu sejak jaman aku kecil aku sangat malas kalau disuruh ikutan reuni, karena menurutku acara reuni itu sangat membosankan. Bayangkan aja isinya sambutan-sambutan dari orang-orang tua trus pembicaraan penuh basa basi dengan banyak senyum palsu dan ketawa yang dipaksakan. Belum lagi kalau aku harus salaman dengan Pakdhe-ku yang pejabat itu trus harus mendengarkan kisah masa kecilnya yang ceritanya sama dan aku harus mendengarkan berkali-kali sampai beliau selesai bercerita...huh sangat sangat membosankan buat Ariana kecil. Kalau boleh memilih aku lebih memilih tinggal di rumah dan main petak umpet atau karet gelang dengan teman-temanku.

Bagaimana setelah aku besar, apakah masih malas datang reuni?
Jawabannya masih sama...malas...ups. Menurutku reuni yang efektif itu reuni yang kecil aja, jangan terlalu banyak orang. Kalau terlalu banyak orang akan cenderung mengelompok ke dalam kelompok-kelompok kecil yang emang udah sering ketemu atau mempunyai hubungan darah yang lebih dekat.

Bagaimana dengan reuni sekolah, apakah aku masih malas datang?
Jawabannya ya aku malas datang. Dulu aku pernah datang ke reuni SMA...alhasil teman-teman SMA-ku tetap membentuk kelompok-kelompok kecil dengan gank SMA-nya dulu sementara aku yang gak pernah ikut gank apapun ya paling ngobrol ama temen SMA yang juga temenku sejak kecil, teman yang dari TK, SD, SMP, dan SMA satu sekolah.

Terus terang saat ini aku merasa paling cocok dengan teman kuliahku. Mungkin karena kami bertemu dan berteman saat kami sama-sama beranjak dewasa. Bisa ngobrol dengan kecepatan yang sama, dengan isi obrolan yang dimengerti oleh semuanya. Memang aku tidak akrab dengan semua teman kuliah yang jumlahnya sekitar 200 sekian orang (dari 3 jurusan) itu tapi paling nggak aku punya beberapa teman yang akrab dan menyenangkan. Dan satu hal penting buatku, teman-teman kuliahku tidak KEPO...tidak selalu ingin tahu. Aku sangat tidak suka dengan orang yang serba ingin tahu urusan orang dan sok tahu urusan orang lain.

Bukan berarti aku tidak akrab dengan teman kecilku, ada teman kecilku yang dari dulu sangat akrab denganku hanya saja dia sekarang berdomisili di Surabaya jadi kami sangat jarang ketemu secara fisik. Sementara kalau teman-teman kuliahku banyak yang berdomisili di Jakarta jadi sesekali kami masih bisa bertemu. Kalaupun ada acara kumpul-kumpul dengan teman kuliah biasanya aku mengajak beberapa orang saja. Lebih baik ketemu kecil-kecilan aja...suasana lebih menyenangkan, obrolan juga lebih nyambung, bisa bercanda tanpa takut ada yang tersinggung karena kami udah saling mengerti watak masing-masing.

Jadi kalau ada undangan-undangan reuni yang skala besar lagi hampir bisa dipastikan aku tidak akan datang. Aku memilih berkumpul dalam skala kecil aja. Oya adalagi yang aku kurang suka dengan reuni dalam skala besar, kalau ada teman atau saudara yang bergelut di partai dan reuni dijadikan sebagai ajang kampanye. Ngobrol soal politik denganku oke-oke aja tapi jangan menjadikan reuni sebagai kampanye terselubung.

0 comments:

Poskan Komentar