November 30, 2009

Idul Adha 1430 H

Idul Adha tahun ini aku tetap di Jakarta aja...males pulkam kalau cuma 3 hari (cape di jalan doang). Aku memutuskan sholat Ied di Masjid Al Azhar Kebayoran Baru. Cuaca sangat bersahabat di pagi hari itu, mendung tapi tidak hujan (dan ternyata sampai sore pun tidak hujan). Jama'ah yang sholat di lapangan Masjid Al Azhar sangat banyak dan ternyata ada juga Jama'ah yang sholat di bagian samping Masjid (sepertinya sih lebih banyak dibanding tahun lalu). Sayangnya saat Khutbah oleh Khatib tidak terdengar jelas karena pengeras suaranya memakai echo.....harusnya gak usah pakai echo (menurutku sih). Oya aku sholat bareng ma Arum (temen kantor). Selesai sholat cari sarapan pagi di belakang Al Azhar...wuahhhh jalanan penuh bangetttt. Sebenarnya aku mau makan sate ayam tapi aku cari-cari pedagangnya gak kelihatan, akhirnya ake pesan siomay sedangkan Arum makan sate Padang.

Begitu usai makan langsung dehh balik ke rumah. Hoahemmmm...mulai berasa ngantuknya deh padahal masih pagi :D
Mo keluar lagi dah males, akhirnya di kamar aja sambil nonton TV. Di TV disiarkan beberapa masjid yang bersiap mengadakan penyembelihan hewan kurban. Dan juga mekanisme pembagian daging kurban yang kata panitianya pasti lebih lancar dibanding tahun-tahun kemarin.

Nah begitu keesokan paginya nonton berita di TV lagi melihat antrian para penerima daging kurban yang begitu mengular....lagi-lagi ricuh dan banyak yang terdorong, terjatuh dan terinjak. Begitu sulitnya orang Indonesia untuk antri secara tertib. Aku miris melihat hal itu, aku pikir sebaiknya perlu ada manajemen pembagian daging kurban yang jauh lebih baik. Sebaiknya para fakir miskin itu didata per area dan daging kurban juga dibagikan per area, sehingga pembagian ke penerima akhir dilakukan oleh aparat setempat yang mengerti benar siapa saja penduduk di daerahnya yang berhak menerima daging kurban (dengan catatan daging gak diselewengkan oleh aparat/pejabat setempat...hmm masih sedikit apatis dengan perilaku oknum aparat/pejabat)

Kalau di daerahku manajemen pembagian daging kurban udah berlangsung dengan sangat baik. Jadi para penerima daging kurban gak perlu antri...tapi panitia kurban yang membagikannya door to door berdasarkan data yang sudah disusun sebelumnya. Dengan melakukan hal itu kehormatan dan harga diri penerima daging kurban tetap terjaga dengan baik dan daging terbagi secara merata kepada orang yang berhak menerimanya. Hal itu sudah berlangsung sejak lama, dari aku kecil sampai sekarang mekanisme yang dipakai masih sama :)

Kalau aku lihat fenomena yang terjadi di beberapa kota di Indonesia sekarang ini...aku gak habis pikir...kenapa ya orang begitu beringas untuk berebut daging. Kalau memang masalah kemiskinan sebagai alasan, banyak kok orang miskin yang mempunyai harga diri yang terjaga sehingga tidak akan menampakkan dirinya sebagai orang miskin...bahkan orang yang seharusnya tidak berhak pun ikut berebut daging...Yaa Rabb...begitu jatuhnyakah harga diri mereka?

Kalau yang aku tahu ya....daging kurban itu adalah hak masyarakat miskin di sekitar tempat penyembelihan....jadi sangat tidak baik kalau masyarakat yang jauh dari situ kemudian datang berbondong-bondong untuk meminta jatah daging...tapi kemarin yang aku lihat di TV...orang Depok rela jauh-jauh datang ke Jakarta untuk antri daging kurban (emang di Depok gak ada pembagian daging kurban ya? aku yakin banyak). Tapi kembali lagi sih ke attitude dari orang-orang itu dan sebaiknya para ulama harus memberi pengertian kepada masyarakat mengenai ketentuan2 kurban itu.

Semoga tahun depan sudah ada manajemen pembagian daging kurban yang jauh lebih baik...sehingga tidak akan ada lagi orang yang terjatuh dan terinjak karena dorong-dorongan di tengah antrian daging kurban...Amin...

0 comments:

Poskan Komentar