Oktober 07, 2013

Haji dan Budi Pekerti

Menunaikan ibadah Haji merupakan Rukun Islam yang kelima, wajib dijalankan oleh umat Islam yang mampu. Mengapa diwajibkan bagi yang mampu? karena ibadah haji itu membutuhkan fisik yang kuat dan biaya yang cukup besar terutama bagi umat Islam yang bermukim jauh dari Makkah dan Madinah. 


Seperti yang kita tahu saat ini ada pengurangan kuota haji untuk umat Islam di seluruh dunia umumnya dan umat Islam di Indonesia pada khususnya karena Masjidil Haram sedang mengalami renovasi. Indonesia merupakan negara dengan penganut Islam terbesar di dunia dan seperti yang kita tahu untuk pergi berhaji umat Islam di Indonesia harus rela menunggu antrian yang bisa memakan waktu bertahun-tahun, apalagi untuk program haji reguler. Kalau mau lebih cepat bisa ikut program haji plus tapi tentu saja harus mengeluarkan biaya yang jauh lebih besar dibandingkan haji reguler.

Oleh karena itu untuk menunaikan ibadah haji selain membutuhkan biaya juga membutuhkan niat yang benar. Bahwa dengan berhaji dia akan meninggalkan semua kesenangan dunia, semua harta, keluarga, tahta yang mungkin saat ini dimiliki. Pada saat berhaji manusia diharapkan meninggalkan semua keduniaannya untuk menghamba kepada Allah SWT. Dan semua tentu mengharapkan bisa mendapatkan haji yang mabrur (haji yang baik).

Walaupun banyak orang yang bisa pergi haji tapi tidak semuanya berhasil menjadi haji yang mabrur. Tanda-tanda haji yang mabrur antara lain:
  1. Harta yang dipergunakan untuk menunaikan ibadah haji adalah harta yang diperoleh secara halal. Jadi kalau seorang perampok, penipu atau koruptor pergi haji dengan mengunakan uang hasil kejahatannya bisa dipastikan tidak akan menjadi haji yang mabrur.
  2. Menjalankan semua rukun-rukun dan kewajiban haji dan meninggalkan semua larangan. Serta menjalankan ibadah haji dengan penuh keikhlasan.
  3. Hajinya dipenuhi dengan amalan baik seperti shalat tepat pada waktunya, dzikir, membantu teman seperjalanan yang membutuhkan bantuan dan kebaikan lainnya.
  4. Tidak berbuat maksiat selama ihram.
  5. Setelah menunaikan ibadah haji menjadi manusia yang lebih baik lagi perilakunya.
Selama ini di masyarakat sering terdengar seloroh:
"Orang itu pelit ya padahal udah haji lho."
"Ah para koruptor juga hampir semuanya bergelar haji kok."
"Udah pergi haji tapi kok kelakuannya sering menyakitkan orang lain ya?"
"Apa gunanya wanita itu pergi haji tapi pakaiannya masih menampakkan aurat."
Dan beragam ungkapan lainnya.

Itulah bukti bahwa menunaikan ibadah haji tidak berkaitan dengan budi pekerti seseorang. Menunaikan ibadah haji adalah ibadah yang diwajibkan bagi yang mampu. Jadi siapa saja yang mempunyai uang yang cukup tentu bisa pergi haji, hanya saja manusia itu mempunyai budi pekerti dan attitude yang beragam. Bisa saja raja copet pergi haji dari uang hasil mencopet, penipu pergi haji dari uang hasil menipu atau koruptor pergi haji dengan uang hasil korupsi. Tapi sudah pasti mereka tidak akan menjadi haji yang mabrur karena uang yang dipakai untuk berhaji berasal dari sumber yang haram. Atau wanita yang sudah menunaikan ibadah haji tapi sesudahnya menggunakan pakaian yang sangat terbuka misal rok mini atau baju "you can see", berarti dia tidak menjadi manusia yang lebih baik karena menutup aurat adalah kewajiban bagi setiap muslimah.

Seseorang diharapkan menjadi pribadi yang lebih baik setelah menunaikan ibadah haji, dan tidak semua orang bisa secara konsisten melaksanakan hal itu. Bahkan banyak diantara orang-orang yang sudah menunaikan ibadah haji menjadi orang yang sombong, misalnya: dia hanya mau menoleh saat dipanggil dengan sebutan Pak/Bu Haji, saat menerima undangan dia akan marah apabila di undangan tersebut tidak dituliskan gelar Haji/Hajah di depan namanya dan bentuk-bentuk kesombongan lainnya. Padahal dalam Agama Islam tidak ada satu dalil pun yang menyebutkan bahwa orang yang sudah menunaikan ibadah haji harus dipanggil Pak Haji atau Bu Hajah.

Jadi intinya tidak ada kaitannya antara pergi haji dengan budi pekerti seseorang, semuanya kembali kepada pribadi masing-masing orang yang menjalankan ibadah haji. Niat awal untuk pergi haji saja pasti berbeda pada setiap orang...ada yang benar-benar rindu kepada Baitullah, ada yang pergi haji karena ingin pamer, ada yang pergi haji karena mau nyaleg, atau pergi haji karena ikut-ikutan saja.

Bagaimana dengan orang-orang miskin yang sangat ingin pergi haji tetapi tidak mampu secara finansial? Jangan khawatir, Masjid yang ada disekitar kita juga merupakan rumah Allah. Orang miskin yang sangat ingin pergi haji, rajin beribadah dan mempunyai budi pekerti yang baik Insya Allah dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang sudah pergi haji dan hajinya mabrur. Sekali lagi, menunaikan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu. Bagaimana kalau orang yang sudah mampu pergi haji tapi dia tidak mau pergi haji? Tentu saja dia akan mendapatkan dosa karena tidak mau menjalankan kewajiban agama.

0 comments:

Poskan Komentar