Mei 15, 2013

Percakapan ringan dengan supir taksi

Minggu lalu saat mau menuju bandara aku pesan taksi blue bird karena harus berangkat pukul 03.15 dini hari ke bandara untuk mengejar penerbangan pertama ke Surabaya. Dan Alhamdulillah sebelum pukul 03.15 WIB taksi blue bird yang aku pesan udah stand by di depan rumah. 

Supirnya ramah dan sopan, masih muda. Sepanjang perjalanan dari Benhil ke bandara kami sempat ngobrol-ngobrol ringan...sampai suatu waktu sang supir menyinggung soal demo buruh yang terjadi beberapa waktu yang lalu.
Supir : "Gara-gara demo buruh kemarin itu sempat macet di beberapa tempat Bu."
Aku   : "Pastilah pak, tapi sepertinya imbas kemacetannya tidak separah tahun-tahun sebelumnya dan demonya lebih tertib."
Supir : " Iya bu emang jauh lebih tertib dibanding tahun kemarin."
Aku   : " Tapi sayangnya kalau abis demo selalu meninggalkan sampah yang menggunung, menambah pekerjaan buat tukang sapu jalanan. Harusnya peserta demo jangan buang sampah sembarangan."
Supir  : " Iya Bu...kasihan petugas kebersihannya. (hening beberapa saat)
Supir  : " Sebenarnya buat apa ya demo-demo seperti itu? mengganggu masyarakat yang lainnya. Jalanan jadi macet dimana-mana, sampah juga banyak bertebaran dimana-mana..."
Aku    : "Kan katanya biar kesejahteraan buruh dinaikkan Pak, minta upah yang layak dan jaminan kesehatan yang lebih bagus."
Supir  : "Saya dulu juga buruh pabrik Bu, dan waktu itu saya merasa cukup kok. Sebulan saya bisa dapat rata-rata 3-4 juta termasuk uang lembur."
Aku    : " Oya Pak, wah lumayan juga ya?"
Supir   : "Iya Bu, lumayan penghasilannya. Makanya saya heran kenapa masih aja pada seneng demo. Mending kerja yang bagus biar gajinya juga semakin bagus."
Aku    : " Ya mungkin tidak semua buruh mendapatkan penghasilan sebesar itu Pak."
Supir  : "Tapi rata-rata teman-teman saya dulu penghasilannya juga lumayan kok Bu, asal mau hidup sederhana dan mensyukuri apa yang udah didapat."
Aku    : "Iya Pak, kalau kita selalu mensyukuri rezeki yang kita dapat berapa pun itu emang hidup terasa lebih ringan."
Supir  : "Seringnya kalau demo gitu ada yang ngajakin sih Bu, disamperin ke pabrik-pabrik. Kalau saya sih males ikutan demo."
Aku    : "Trus kok Bapak pindah jadi supir taksi?"
Supir  : "Pengen nyoba pengalaman lain aja Bu dan penghasilannya juga lumayan."

Perjalanan hampir berakhir dan memasuki gerbang Bandara Soekarno Hatta.
Supir   : "Terminal 3 ya Bu?"
Aku     : "Iya Pak, masukknya masih bayar ya biarpun hanya antar jemput?"
Supir   : "Masih Bu, bayar 4000."

Taksi berhenti tepat sejajar dengan pintu keberangkatan, tinggal nyebrang aja.

Aku   : "Terima kasih ya Pak.." (sambil menyerahkan uang pembayaran)
Supir : "Sama-sama Bu, semoga selamat sampai tujuan (sambil tersenyum). "Ini kembaliannya Bu."
Aku   : "Tidak usah Pak, terima kasih."
Supir  : "Terima kasih banyak ya Bu, terima kasih banyak... (senyumnya semakin lebar)
Aku tersenyum sebelum menutup pintu taksi dan menuju pintu keberangkatan.

NOTE:
Bahagia itu sederhana kok, kalau kita bisa mensyukuri semua rezeki yang kita dapat.
Membuat orang lain bahagia itu sederhana kok, mendengarkan, merespon dan tersenyum kepada orang yang mengajak kita berbicara itu sudah bisa bikin dia bahagia dan tersenyum lebar.
Bahagia itu bukan dicari tapi diciptakan :)

0 comments:

Poskan Komentar