Mei 18, 2014

Ubud, Kintamani, Tampaksiring

Hari ketiga di Bali barulah aku mulai jalan-jalan karena adikku juga baru datang hari itu sih. Schedule pertama adalah ke Ubud dan Kintamani. Di Ubud kebanyakan sih isinya galeri-galeri barang-barang kerajinan, tapi aku tidak tertarik belanja disana. Lagian dulu udah pernah menyusuri jalanan di Ubud. Aku juga males mampir ke monkey forrest cuma buat melihat monyet. Aku cuman pengen ke Terrace Rice di Tegallalang. Nah untuk masuk ke Tegallalang pengunjung kena biaya Rp 5000/orang. Terrace Rice atau Terasering banyak terdapat di daerah lain juga kok. Hanya saja karena berada di wilayah Ubud jadinya banyak menarik perhatian wisatawan terutama wisatawan asing. Di daerah Bedugul aku lihat ada beberapa Terrace Rice juga.

 Dari Tegallalang kami menuju ke Kintamani. Disana kami makan di Sari Restaurant dengan pemandangan menghadap langsung ke Gunung Batur. Oya makanan disini halal dan disini ada musholanya juga, jadi kalau mau sholat gampang. Sistem makan disini adalah All You Can Eat tidak termasuk minuman ya, paket buffetnya seharga Rp 97.000/orang. Menu yang enak disini menurutku adalah sate tuna dan sate lilit (daging ayam).

 Puas menikmati pemandangan Gunung Batur, kami memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan pulang kami mampir di salah satu perkebunan kopi Madu Sari yang menyediakan kopi luwak, perkebunan ini terletak di Tampaksiring. Ada pemandu yang menerangkan jenis-jenis kopi yang ada disana. Trus kami dipersilahkan untuk mencicipi aneka kopi dan minuman lain yang ada disana...kalau mau nyicipin kopi luwak harus bayar Rp 50.000/cangkir. Hmm...jadi pengen nyobain...padahal biasanya aku gak ngopi. Pengen tau aja kayak apa sih rasanya. Begitu aku minum...sruput...sruput...emmm menurutku rasanya sama aja kayak kopi lain hahahaha.... Ya gini nih kalau orang yang jarang banget minum kopi dikasih kopi yang katanya termahal di dunia, gak ada bedanya di lidahku hehehe...

 Disana ada toko kecil yang menyediakan aneka jenis kopi dalam kemasan, Jadi kalau pengunjung pengen membeli bisa belanja sepuasnya disitu. Aku sih beli Lemon Grass dan Kopi Ginseng. Harganya mahal euy untuk sekantong kecil kopi (kalau mau murah beli di warung aja ya hehehehe...)

 Pulang dari perkebunan Madu Sari kami mampir ke penjual durian yang letaknya dekat banget ama perkebunan. Uuhhh harum durian udah menusuk-nusuk hidung, duriannya matang di pohon....udah ngebayangin wah pasti enak nih. Ternyata rasanya benar-benar mantapppp...enak euy. Biji duriannya itu kecil dan dagingnya lembut dan tebal. Rasanya beda yang dengan durian bangkok atau durian medan....enaklah pokoknya. Harga durian ukuran besar Rp 40.000/butir. Aku beli 2 buah durian lagi untuk oleh-oleh sepupuku.

 Mampir lagi ke Pura Tirta Empul, biaya masuknya Rp 15.000/orang. Di Tirta Empul ada sumber mata air, dan sering digunakan pengunjung untuk mandi. Ikan-ikan yang berada di Tirta Empul dilarang ditangkap, jadi benar-benar bebas dari kecil sampai besar dan mati sendiri. Sebelum masuk ke area Pura...pengunjung diwajibkan memakai kain yang sudah disediakan oleh pengelola. Dari dalam area Pura Tirta Empul terlihat kompleks Istana Tampaksiring dari arah belakang. Pengunjung tidak boleh sembarangan masuk ke kompleks Istana kepresidenan itu, harus ada ijin khusus.

 Okay saatnya pulang ke Denpasar. Bau durian semakin terasa menusuk-nusuk hidung...lama-lama bikin pusing juga euy. Walaupun aku doyan banget durian tapi kalau harus mencium baunya di dalam mobil lama-lama mual juga. Kami sampai di Denpasar pukul 20.00 WITA. Langsung disambut oleh keponakan-keponakanku dan Azka langsung nanya,"Budhe pergi kemana, kok lama sekali?" 

Saatnya membersihkan badan, sholat, makan dan tiduuuurrrrr. Bersiap untuk perjalanan besok....zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz.........................

0 comments:

Poskan Komentar